• July 22, 2024

Teks Khutbah Jumat Syawal 2024: Cara Menjaga Iman dan Takwa setelah Ramadhan

Contoh teks khutbah Jumat bulan Syawal dengan tema cara menjaga iman dan takwa setelah Ramadhan. Naskah khutbah Jumat dalam artikel ini berkaitan dengan kewajiban bertakwa kepada Allah SWT. Dalam khutbah Jumat singkat ini akan diterangkan bagaimana umat Islam dapat meningkatkan nilai nilai takwa meskipun bulan Ramadhan telah lewat.

Khotib dapat menyampaikan tentang cara menyatukan keimanan dan ketakwaan bagi seorang muslim. Adapun contoh teks khutbah Jumat Syawal 2024 ini dapat dibacakan ketika khutbah salat Jumat pada hari ini, Jumat, 19 April 2024. Simak contoh khutbah jumat berikut ini, melansir dari laman Pondok Pesantren Tebuireng .

Menjadi kewajiban kita masing masing bertakwa kepada Allah SWT. dan senantiasa meningkatkan nilai nilai ketakwaan itu semampu kita. Bahkan kita harus berjuang agar semua amal perbuatan bisa terkontrol oleh nilai ketakwaan yang ada dalam diri kita. Dan tidak menyimpang dari nilai nilai agama dan tuntunan syariat. Teks Khutbah Jumat Syawal 2024: Cara Menjaga Iman dan Takwa setelah Ramadhan

TEKS Khutbah Jumat 3 Mei 2024, Akhir Syawal 1445 H: Menyusun Pola Hidup Berkah Setelah Ramadhan Teks Khutbah Jumat, 26 April 2024: Ketentraman Hati dan Menanamkan Takwa dalam Jiwa Teks Khutbah Jumat 26 April 2024 Bertema Empat Amal yang Penting Setelah Bulan Ramadhan

Contoh Teks Khutbah Jumat dengan Tema Peristiwa di Bulan Syawal Naskah Khutbah Jumat 3 Mei 2024, Akhir Syawal 1445 H: Mengatur Pola Hidup Berkah Setelah Ramadhan Contoh Teks Khutbah Jumat Bulan Syawal 26 April 2024 dalam Bahasa Jawa Khidmat dan Tersedia PDF

NASKAH KHUTBAH JUMAT 26 April 2024, Tugas Penting Muslim saat Ramadhan Pergi dan Syawal Menyambut Kita juga wajib berharap kepada Allah, memohon dan berdoa kepada Nya agar perjalanan hidup kita ini selalu mendapatkan rahmat dan ridlo Nya sehingga dapat tercapai tujuan hidup tentram, selamat di dunia dan di akhirat. Tentu hal tersebut harus disertai dengan amal yang salih. Amal yang sesuai dengan ilmunya.

Sebab, harapan harapan kita, sebesar apapun apabila tidak disertai dengan amal maka itulah sebuah angan angan belaka dan tidak membekaskan suatu hasil apapun. Sedangkan yang dituntut dari orang yang arif bi Allah adalah dapat menjadi benar dalam menghambakan dirinya kepada Allah dan dapat mendirikan segala hak hak ketuhanan. Apabila Allah telah merizekikan kepadamu ketaatan di dalam melaksanakan segala perintah Nya dan merasa kaya dengannya. Yakni sudah merasa cukup, dengan ketakwaan itu dan tidak memerlukan apa apa selainnya. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah telah mengaruniakan nikmat Nya secara dhohir dan batin .

Berkaitan dengan janji Allah atas ketakwaan dan keimanan seseorang, sekaligus ancaman dan kutukan Allah terhadap penyimpangan penyimpangan dan berpaling dari jalan Nya. Sesungguhnya Al Quran telah banyak menjelaskan dan menerangkan banyak petunjuk kepada kita dalam perumpamaan yang ada di dalam kehidupan umat umat sebelum nabi Muhammad. Memang ada beberapa ayat yang senada dan alurnya sama. Yang mengandung arti penekanan penekanan yang sama.

Sekiranya penduduk negeri negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga surga yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya kalau mereka (ahli kitab) mau beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.

Ketiga ayat di atas, terkait dengan kutukan Allah SWT terkait dengan berbagai macam penyimpangan dan pendustaan terhadap nilai keimanan dan ketakwaan. Allah SWT Yang Maha Suci dengan segala Kebesaran Nya, walaupun betapa besar dosa penyimpangan itu. Tetapi Allah SWT masih memberi kesempatan pengampunan bagi orang orang yang mau bertaubat dan menjalan ibadah keimanan ini dengan benar.

Yang terakhir, dalam rangkaian ayat yang telah kami baca tadi perlu diperhatikan. Ada dua kalimat yang senada. Dalam ketiga ayat itu ada kalimat wa amanu wa ittaqau. Susunan sama, bentuk sama, dan ada penambahan tauqid dalam musnad dan juga tauqid dalam musnad ilaih. Sehingga mempunyai penegesan bahwa keimanan dan ketakwaan tergantung pada hamba yang melaksanakan, dan balasannya akan dirasakan sendiri baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Ini artinya bahwa keimanan dan ketakwaan ini harus menyatu. Ketakwaan seseorang baru akan dicatat oleh Allah manakala ketakwaan itu didasari oleh keimanan yang mantap dalam hati. Mengapa? Karena keimanan itu adalah pekerjaan hati sebagai simbol dia percaya dan tunduk dalam segala aturan agama. Sedangkan takwa adalah bentuk bukti dari amal perbuatan yang menunjukkan keimanan tersebut melalui amaliah ibadah sehari hari.

Apabila kedua hal ini ada pada seseorang dan ia mau melaksanakan dengan penuh kesadaran maka sesungguhnya ia berhak mendapatkan janji janji Allah SWT. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hamba hamba yang mampu melakukan taat dengan sebenar benarnya dan menjauhi hal hal yang menjauhkan kita dari jalan Allah SWT. Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *